Tangerang, 8 September 2026 – Personel Polresta Bandara Soekarno-Hatta memberikan pendampingan kepada seorang ibu bersama balitanya yang mengalami kendala perjalanan di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Perempuan berinisial DS berusia 30 tahun tersebut mengalami kesulitan melanjutkan perjalanan setelah dana pengembalian tiket yang sebelumnya diajukan belum dapat digunakan. Situasi semakin sulit karena anak yang dibawanya mengalami demam di tengah kondisi penerbangan yang masih terdampak gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Keterbatasan biaya membuat sang ibu belum dapat membeli tiket penerbangan lanjutan maupun mencari tempat untuk beristirahat bersama anaknya. Petugas yang mengetahui kondisi tersebut kemudian membawa ibu dan anak itu ke Polsubsektor Terminal 2 untuk mendapatkan pendampingan. Penanganan dilakukan dengan memprioritaskan kondisi kesehatan balita sekaligus mencari solusi agar keduanya dapat melanjutkan perjalanan.
Setelah berada di Polsubsektor Terminal 2, Tim Kedokteran dan Kesehatan Polresta Bandara Soekarno-Hatta melakukan pemeriksaan terhadap balita yang mengalami demam. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi anak tetap terpantau setelah harus berada cukup lama di lingkungan bandara akibat perjalanan yang terkendala. Personel polisi wanita turut mendampingi sang ibu selama proses pemeriksaan dan membantu mengidentifikasi persoalan yang membuat perjalanan mereka tertunda. Petugas kemudian melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak di lingkungan bandara untuk mencari alternatif penerbangan yang memungkinkan. Pendampingan tidak hanya difokuskan pada aspek administratif perjalanan, tetapi juga memastikan ibu dan anak tersebut memiliki tempat yang lebih aman selama menunggu penyelesaian. Langkah itu dilakukan karena kondisi anak membutuhkan perhatian sementara sang ibu juga harus menghadapi ketidakpastian perjalanan.
Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta Kombes Pol Wisnu Wardana mengatakan pelayanan kepolisian di kawasan bandara tidak hanya berkaitan dengan pengamanan dan penegakan hukum. Personel juga memiliki tanggung jawab memberikan bantuan ketika menemukan masyarakat yang mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Dalam kasus tersebut, perhatian pertama diarahkan kepada kondisi kesehatan balita sebelum petugas mencari jalan keluar terhadap persoalan perjalanan yang dialami sang ibu. Polisi berupaya memastikan keduanya tidak harus menghadapi situasi tersebut tanpa pendampingan di tengah kondisi operasional bandara yang sebelumnya mengalami gangguan. Kehadiran petugas di ruang pelayanan publik dinilai harus mampu memberikan respons terhadap berbagai persoalan yang muncul, termasuk persoalan kesehatan maupun kebutuhan mendesak penumpang. Karena itu, koordinasi dilakukan hingga ditemukan solusi yang memungkinkan ibu dan anak tersebut kembali melanjutkan perjalanan.
Dari hasil koordinasi, petugas akhirnya membantu mencarikan tiket penerbangan lanjutan menuju Bandara Silangit di Sumatera Utara. Sang ibu bersama anaknya kemudian didampingi sampai tahapan keberangkatan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Pendampingan tersebut memastikan keduanya dapat melalui proses perjalanan dengan lebih tertib setelah sebelumnya mengalami kendala biaya akibat dana pengembalian tiket yang belum dapat digunakan. Kepolisian juga memastikan kondisi anak telah memperoleh perhatian dari petugas kesehatan sebelum kembali melakukan perjalanan udara. Penyelesaian tersebut menjadi penting karena sang ibu sebelumnya berada dalam posisi sulit untuk menentukan langkah berikutnya akibat keterbatasan biaya. Setelah tiket penerbangan diperoleh, perjalanan menuju tujuan akhirnya dapat kembali dilanjutkan.
Kendala yang dialami ibu dan balita tersebut terjadi di tengah situasi penerbangan Bandara Soekarno-Hatta yang dalam beberapa hari terakhir terganggu akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan dan perubahan jadwal karena aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama ketika abu vulkanik terdeteksi di wilayah udara. Kondisi itu menyebabkan sebagian penumpang harus berada lebih lama di terminal sambil menunggu kepastian mengenai jadwal keberangkatan masing-masing. Bagi penumpang yang memiliki keterbatasan biaya atau bepergian bersama anak kecil, perubahan jadwal dapat menimbulkan persoalan tambahan karena mereka membutuhkan makanan, tempat beristirahat, maupun layanan kesehatan. Situasi tersebut membuat petugas bandara dan aparat keamanan meningkatkan pemantauan terhadap kondisi penumpang di berbagai terminal. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan menjadi salah satu perhatian selama gangguan penerbangan berlangsung.
Polresta Bandara Soekarno-Hatta sebelumnya juga meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdampak penundaan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik. Personel Seksi Kedokteran dan Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan dasar di Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3 dengan dukungan personel kepolisian lainnya. Pemeriksaan tekanan darah, pemberian vitamin, obat-obatan untuk kebutuhan medis ringan, serta pembagian masker dilakukan kepada pengguna jasa yang membutuhkan. Petugas juga memberikan edukasi mengenai pentingnya melindungi saluran pernapasan mengingat abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan ketika terhirup. Selain layanan kesehatan, makanan ringan dan minuman turut dibagikan kepada sejumlah penumpang yang harus menunggu lebih lama akibat perubahan jadwal penerbangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi masyarakat selama operasional penerbangan belum sepenuhnya kembali normal.
Pemantauan terhadap aktivitas penumpang juga diperkuat untuk mencegah terjadinya penumpukan pada area tertentu ketika banyak penerbangan mengalami keterlambatan. Personel kepolisian berkoordinasi dengan pengelola bandara dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan arus penumpang tetap tertib. Informasi mengenai perubahan jadwal penerbangan menjadi salah satu kebutuhan penting karena ketidakpastian dapat membuat calon penumpang berkumpul di konter pelayanan maupun area keberangkatan. Petugas meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari maskapai dan pengelola bandara agar tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi. Penumpang yang mengalami masalah kesehatan atau kesulitan lain selama berada di terminal juga diminta segera menghubungi petugas. Dengan mekanisme tersebut, persoalan seperti yang dialami ibu dan balitanya diharapkan dapat diketahui lebih cepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Gangguan perjalanan akibat bencana alam dapat menimbulkan dampak yang berbeda bagi setiap penumpang, terutama ketika perubahan jadwal berlangsung cukup lama. Penumpang yang memiliki kemampuan finansial memadai mungkin dapat mencari akomodasi atau membeli tiket alternatif, sedangkan masyarakat dengan keterbatasan biaya dapat menghadapi situasi yang jauh lebih sulit. Persoalan pengembalian dana tiket juga dapat memengaruhi kemampuan penumpang membeli penerbangan baru apabila dana belum masuk atau belum dapat digunakan. Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks bagi orang tua yang membawa balita karena kebutuhan anak harus tetap dipenuhi selama menunggu perjalanan. Pemeriksaan kesehatan, tempat beristirahat, makanan, minuman, dan kepastian keberangkatan menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Kasus di Terminal 2 tersebut memperlihatkan pentingnya koordinasi antara petugas keamanan, layanan kesehatan, maskapai, dan pengelola bandara ketika menghadapi penumpang dalam kondisi rentan.
Wisnu mengingatkan masyarakat tidak perlu ragu meminta bantuan kepada petugas ketika menghadapi persoalan selama berada di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Bandara merupakan ruang pelayanan publik dengan tingkat mobilitas tinggi sehingga persoalan yang dihadapi pengguna jasa dapat sangat beragam dan tidak selalu berkaitan dengan keamanan. Personel yang berada di terminal dapat membantu mengarahkan masyarakat kepada layanan yang sesuai, termasuk ketika membutuhkan pemeriksaan kesehatan atau menghadapi kendala perjalanan. Respons cepat menjadi semakin penting dalam kondisi luar biasa seperti gangguan penerbangan akibat erupsi karena jumlah masyarakat yang membutuhkan informasi dan bantuan dapat meningkat dalam waktu bersamaan. Kepolisian juga meminta penumpang tetap tenang dan mematuhi arahan petugas selama proses normalisasi operasional berlangsung. Keselamatan penumpang tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan terkait perjalanan udara.
Pendampingan terhadap ibu dan balita di Terminal 2 akhirnya selesai setelah keduanya memperoleh penerbangan lanjutan menuju Bandara Silangit dan dapat meninggalkan Soekarno-Hatta. Polisi memastikan proses keberangkatan tetap didampingi sehingga sang ibu tidak lagi menghadapi kendala yang sebelumnya membuat perjalanan terhenti. Pada saat bersamaan, pelayanan bagi penumpang lain tetap dilakukan selama dampak gangguan penerbangan akibat erupsi Anak Krakatau masih dirasakan. Aparat bersama pemangku kepentingan bandara akan terus memantau kondisi terminal, memberikan layanan kesehatan, serta membantu masyarakat yang menghadapi kebutuhan mendesak. Pengguna jasa juga diminta aktif menyampaikan kesulitan kepada petugas sehingga penanganan dapat diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Dengan koordinasi antarpihak dan pelayanan yang responsif, dampak perubahan jadwal penerbangan terhadap masyarakat diharapkan dapat diminimalkan sampai operasional Bandara Soekarno-Hatta kembali berjalan sepenuhnya normal.







