Bandung, 6 September 2026 – Suara dentuman berulang yang terdengar di Bandung Raya dan sejumlah wilayah Jawa Barat sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari sempat membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai sumbernya. Sejumlah warga melaporkan dentuman cukup kuat hingga membuat kaca, pintu, dan bagian rumah bergetar. Fenomena tersebut muncul hampir bersamaan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pada pemeriksaan awal, tidak ditemukan aktivitas gempa bumi di Bandung yang dapat menjelaskan suara tersebut. Kondisi cuaca lokal dan aktivitas petir juga tidak menunjukkan fenomena signifikan yang dapat menjadi penyebab. Analisis terbaru Badan Geologi kemudian menunjukkan keterkaitan kuat antara dentuman tersebut dan gelombang akustik yang dihasilkan erupsi Anak Krakatau. Kesimpulan itu didasarkan pada kesesuaian waktu kejadian dan sinyal yang terekam pada sejumlah stasiun pemantauan di Jawa Barat.
Laporan masyarakat mengenai dentuman mulai banyak muncul pada periode Jumat, 4 September malam hingga Sabtu, 5 September dini hari. Di Bandung Raya, suara berulang dilaporkan terdengar terutama sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB. Sebagian warga mengaku awalnya mengira getaran pada pintu dan kaca disebabkan angin atau aktivitas lain di sekitar rumah. Namun, kemunculan dentuman secara berulang di berbagai lokasi membuat fenomena tersebut menjadi perhatian lebih luas. Laporan serupa kemudian muncul dari sejumlah daerah lain di Jawa Barat serta wilayah Banten dan Lampung. Pada waktu yang berdekatan, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan aktivitas lava. Kesamaan waktu tersebut menjadi salah satu petunjuk penting yang kemudian dianalisis oleh lembaga terkait.
BMKG melalui Stasiun Geofisika Bandung melakukan pemeriksaan terhadap data kegempaan setelah menerima laporan masyarakat. Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat aktivitas seismik di wilayah Bandung Raya pada periode ketika dentuman terdengar. Aktivitas di sejumlah sesar yang berada di sekitar Jawa Barat juga tidak menunjukkan gempa yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Pemeriksaan terhadap aktivitas petir menunjukkan intensitas kelistrikan udara di Bandung Raya relatif rendah. Kondisi cuaca saat itu secara umum juga tidak memperlihatkan fenomena ekstrem lokal yang lazim menghasilkan suara keras. Temuan tersebut membuat kemungkinan gempa bumi maupun cuaca lokal sebagai sumber dentuman dapat disingkirkan berdasarkan data pemantauan yang tersedia. BMKG pada tahap awal kemudian menyatakan sumber suara masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Pada analisis awalnya, BMKG juga menilai kecil kemungkinan suara tersebut berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pertimbangan saat itu antara lain jarak antara pusat erupsi dan Bandung serta kondisi atmosfer dan arah angin yang terpantau. Karena itu, masyarakat sempat menerima informasi bahwa dentuman belum dapat dikaitkan langsung dengan aktivitas gunung api di Selat Sunda. BMKG tetap melanjutkan pemantauan terhadap parameter kegempaan, petir, magnet bumi, dan atmosfer untuk mencari penjelasan yang lebih lengkap. Sejumlah anomali memang terekam pada perangkat pemantauan, tetapi belum dapat langsung ditetapkan sebagai sumber suara. Perbedaan kesimpulan sementara tersebut merupakan bagian dari proses analisis karena masing-masing lembaga menggunakan parameter sesuai bidang pemantauannya. Perkembangan berikutnya menghadirkan penjelasan lebih kuat setelah Badan Geologi menganalisis aktivitas erupsi dan karakter gelombang akustiknya.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria pada Minggu menjelaskan bahwa kesesuaian waktu antara erupsi Anak Krakatau dan laporan dentuman menjadi salah satu dasar analisis. Sinyal yang terekam pada stasiun pemantauan di Jawa Barat juga dinilai mendukung kuat bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi. Gelombang berfrekuensi rendah dari aktivitas gunung api dapat merambat sangat jauh melalui atmosfer dalam kondisi tertentu. Ketika mencapai suatu wilayah, gelombang tersebut dapat dirasakan sebagai dentuman sekaligus menghasilkan tekanan yang membuat kaca atau pintu bergetar. Fenomena semacam ini menjelaskan mengapa suara erupsi tidak harus terdengar secara merata di seluruh daerah antara sumber dan lokasi yang jauh. Suatu wilayah yang lebih dekat bahkan dapat tidak mendengar dentuman sejelas wilayah yang berada lebih jauh. Karakter atmosfer menjadi faktor penting dalam menentukan jalur rambatan energi suara tersebut.
Secara fisik, dentuman dari aktivitas vulkanik dapat terbentuk akibat pelepasan gas bertekanan secara cepat ketika erupsi berlangsung. Ekspansi gas menghasilkan perubahan tekanan yang kemudian merambat melalui udara sebagai gelombang akustik. Selain itu, gesekan dan turbulensi material maupun aliran lava berkecepatan tinggi di dalam saluran gunung dapat ikut menghasilkan energi suara. Pada erupsi Anak Krakatau kali ini, aktivitas berlangsung menerus selama beberapa jam dan berasosiasi dengan fenomena lava fountain atau air mancur lava. Kondisi tersebut memungkinkan pelepasan energi akustik terjadi berulang sehingga masyarakat dapat mendengar lebih dari satu dentuman. Gelombang berfrekuensi rendah mempunyai kemampuan merambat lebih jauh dibandingkan suara biasa dalam kondisi atmosfer tertentu. Inilah yang menjadi dasar ilmiah mengapa dentuman dari aktivitas gunung api dapat dirasakan pada jarak yang sangat jauh.
Lapisan atmosfer juga membuat perjalanan suara tidak selalu mengikuti garis lurus dari sumber menuju pendengar. Perbedaan suhu, tekanan udara, serta kecepatan dan arah angin pada berbagai ketinggian dapat membelokkan atau membiaskan gelombang suara. Gelombang yang semula bergerak ke lapisan atmosfer lebih tinggi dapat kembali dibelokkan menuju permukaan bumi pada lokasi yang jauh. Akibatnya, terbentuk kawasan tertentu yang mendengar suara dengan jelas dan kawasan lain yang justru relatif tidak mendengarnya. Kondisi semacam itu pernah diamati pada sejumlah erupsi gunung api besar di Indonesia. Badan Geologi menilai mekanisme atmosfer tersebut dapat menjelaskan bagaimana dentuman Anak Krakatau dapat terdengar hingga wilayah Jawa Barat. Getaran pada kaca dan pintu juga sesuai dengan karakter gelombang tekanan udara berfrekuensi rendah. Karena itu, jarak yang jauh tidak secara otomatis meniadakan kemungkinan hubungan antara erupsi dan suara yang didengar masyarakat.
Aktivitas Anak Krakatau pada periode tersebut memang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Erupsi menerus disertai semburan material merah menyala teramati dari kawasan pemantauan dan karakter visualnya menyerupai lava fountain. Suara gemuruh juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan gelombang akustik, tetapi juga menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah mengikuti pergerakan angin. Sebaran abu terpantau menjangkau Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu pada ketinggian tertentu. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas penerbangan dan memicu peningkatan kewaspadaan masyarakat. Gunung Anak Krakatau hingga kini berada pada Level III atau Siaga yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026. Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pengguna kapal diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Meski dentuman terdengar kuat dan membuat sejumlah bagian rumah bergetar, fenomena tersebut tidak berarti material erupsi secara fisik mencapai Bandung dalam bentuk lontaran batu atau lava. Gelombang akustik merupakan energi tekanan yang merambat melalui atmosfer dan berbeda dengan penyebaran material vulkanik. Masyarakat karena itu diminta membedakan antara suara dentuman, getaran akibat tekanan udara, dan ancaman langsung material erupsi. Risiko yang lebih relevan bagi wilayah jauh dari Anak Krakatau adalah sebaran abu apabila arah angin membawa material tersebut menuju kawasan permukiman. Warga yang mengalami hujan abu dianjurkan menggunakan masker, melindungi mata, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila konsentrasi abu meningkat. Makanan dan sumber air juga perlu dilindungi agar tidak terkontaminasi material vulkanik. Informasi mengenai aktivitas gunung dan sebaran abu sebaiknya mengikuti pembaruan resmi karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat.
Fenomena dentuman Bandung akhirnya memperlihatkan bagaimana aktivitas gunung api dapat menghasilkan dampak yang terasa jauh dari pusat erupsi melalui mekanisme atmosfer. Analisis awal memang sempat belum menemukan hubungan langsung dengan Anak Krakatau setelah gempa, petir, dan cuaca lokal tidak menunjukkan sumber yang sesuai. Namun, analisis Badan Geologi berikutnya menemukan kesesuaian kuat antara waktu erupsi, laporan masyarakat, dan rekaman sinyal akustik di Jawa Barat. Penjelasan mengenai gelombang berfrekuensi rendah juga memberikan gambaran mengapa suara dapat terdengar sangat jauh dan tidak merata di setiap wilayah. Masyarakat Bandung Raya diminta tetap tenang karena dentuman tersebut bukan indikasi adanya aktivitas gempa lokal yang terdeteksi pada saat kejadian. Kewaspadaan tetap diperlukan terhadap perkembangan erupsi Anak Krakatau, terutama berkaitan dengan sebaran abu dan informasi keselamatan yang dikeluarkan pemerintah. Pemantauan lintas lembaga akan terus dilakukan untuk memastikan setiap perubahan aktivitas dapat diketahui dan disampaikan kepada masyarakat secara cepat.







