Mataram, 25 September 2026 – Kementerian Keuangan mendorong pengembangan ekosistem agroindustri kemiri di Nusa Tenggara Barat agar mampu memperluas akses ke pasar global. Upaya tersebut diperkuat melalui peluncuran Joint Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Special Mission Vehicle Kemenkeu Tahun 2026 di Mataram pada Kamis, 24 September. Program yang diinisiasi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia itu diarahkan untuk membangun industri kemiri yang lebih unggul dan berkelanjutan. Pengembangan dilakukan dengan mengintegrasikan proses dari hulu hingga hilir sekaligus meningkatkan kapasitas petani. Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB.
Direktur Pelaksana LPEI Sukarmo Patmo Sukarso menjelaskan pemberdayaan ekonomi daerah menjadi salah satu fokus program tersebut. Dukungan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup penyediaan sarana pascapanen, peralatan penunjang, dan peningkatan kemampuan petani. Penguatan tersebut diharapkan membuat kualitas produk kemiri NTB semakin memenuhi kebutuhan pasar internasional. Pengelolaan yang terintegrasi juga diperlukan agar petani memperoleh manfaat lebih besar dari rantai nilai komoditas. Dengan demikian, kemiri tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Pelaksanaan program melibatkan sejumlah lembaga di bawah koordinasi Kementerian Keuangan dengan pembagian peran yang berbeda. LPEI berfokus pada pengolahan pascapanen dan pengadaan peralatan penunjang produk, sedangkan PT Sarana Multi Infrastruktur menangani penerapan bibit di Lombok, Sumbawa, dan Bima. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia mendapatkan peran dalam peningkatan kapasitas petani. Dukungan lainnya mencakup pembangunan sarana produksi, pemasangan panel surya, pengembangan produk turunan minyak kemiri, serta pengelolaan pascapanen. Kolaborasi tersebut dirancang untuk membangun ekosistem kemiri secara menyeluruh dan tidak hanya menyelesaikan persoalan pada satu tahap produksi.
Program penguatan tersebut berjalan bersamaan dengan semakin terbukanya akses komoditas NTB ke pasar internasional. Pemerintah Provinsi NTB melepas ekspor kemiri ke Jepang serta vanili organik ke Amerika Serikat pada 24 September 2026. Langkah itu menunjukkan bahwa produk pertanian daerah memiliki peluang memasuki rantai perdagangan global apabila kualitas, standar, dan kontinuitas pasokan dapat dijaga. Kemiri menjadi salah satu komoditas yang dinilai masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi. Produk turunannya dapat memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan apabila komoditas hanya dipasarkan dalam bentuk bahan baku.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyambut program tersebut sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi daerah. NTB berupaya memperluas sumber pertumbuhan agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan yang dapat mengalami fluktuasi. Pertanian, pariwisata, dan agroindustri dipandang mempunyai ruang pengembangan karena aktivitasnya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Selain kemiri, NTB memiliki komoditas potensial lainnya seperti vanili, kakao, dan kopi yang dapat diarahkan menuju pasar ekspor. Tantangannya adalah memastikan peningkatan produksi berjalan bersama dengan pemenuhan standar, hilirisasi, dan keberlanjutan akses pasar.
Kementerian Keuangan memandang daerah dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional apabila didukung produktivitas, investasi, industrialisasi, dan hilirisasi. Karena itu, program pengembangan kemiri tidak dirancang sebatas memberikan bantuan kepada petani. Rantai nilai dibangun mulai dari peningkatan kemampuan sumber daya manusia, produksi, modernisasi pascapanen, infrastruktur pendukung hingga pengembangan produk turunan. Pembukaan akses pasar global menjadi tahapan penting agar peningkatan kapasitas produksi memiliki tujuan pemasaran yang jelas. Keberhasilan program pada akhirnya akan terlihat dari kemampuan produk NTB mempertahankan pasar ekspor secara berkelanjutan.
Penguatan agroindustri kemiri diharapkan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan daya saing produk unggulan NTB. Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha menjadi faktor penting agar program dapat berjalan dari tingkat produksi hingga pemasaran. Ekspor kemiri ke Jepang menjadi salah satu pijakan untuk memperluas pasar sekaligus membuktikan potensi komoditas daerah di tingkat internasional. Pemerintah daerah juga berharap NTB dapat menjadi proyek percontohan bagi pengembangan komoditas berorientasi ekspor. Dengan penguatan hilirisasi dan konsistensi kualitas, kemiri NTB berpeluang menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi petani dan perekonomian daerah.





