Jakarta, 15 September 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkap alasan pemerintah Indonesia memilih mengimpor minyak mentah dari Rusia di tengah dinamika geopolitik global. Menurut Bahlil, pemerintah saat ini memprioritaskan ketersediaan pasokan minyak dengan harga yang ekonomis untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Rusia menjadi salah satu negara pemasok yang dipilih karena mampu menyediakan minyak mentah dengan harga yang dinilai kompetitif. Pemerintah tidak ingin kebutuhan energi masyarakat terganggu akibat terbatasnya pasokan maupun meningkatnya harga minyak dunia. Kebijakan impor juga dilakukan dengan mempertimbangkan aturan yang berlaku serta kepentingan nasional. Bahlil menegaskan bahwa selama pasokan tersedia, harganya menguntungkan, dan transaksi tidak melanggar ketentuan, pemerintah dapat melanjutkan pembelian minyak dari negara tersebut.
Pemerintah menilai kondisi pasar energi global saat ini membutuhkan strategi pengadaan yang lebih fleksibel. Ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi produksi, jalur distribusi, hingga harga minyak mentah dalam waktu relatif cepat. Indonesia karena itu tidak dapat hanya bergantung pada satu atau dua negara pemasok untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik. Diversifikasi sumber impor diperlukan agar risiko gangguan pasokan dapat ditekan. Rusia menjadi salah satu alternatif dalam strategi tersebut karena menawarkan pasokan yang dapat memenuhi kebutuhan Indonesia. Pertimbangan keekonomian tetap menjadi faktor penting karena perubahan harga minyak akan berpengaruh terhadap biaya penyediaan energi di dalam negeri.
Bahlil menekankan bahwa pemerintah mengutamakan kepentingan masyarakat dalam menentukan sumber pengadaan minyak mentah. Indonesia memiliki kebutuhan energi besar yang belum seluruhnya dapat dipenuhi melalui produksi domestik. Produksi minyak nasional pada awal September tercatat masih berada di bawah target 610 ribu barel per hari yang ditetapkan untuk 2026. Kondisi tersebut membuat impor masih dibutuhkan untuk menutup kesenjangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan konsumsi. Pemerintah harus memastikan kilang mendapatkan pasokan yang cukup agar produksi bahan bakar tidak terganggu. Ketahanan pasokan menjadi semakin penting ketika harga minyak internasional bergerak pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan asumsi awal pemerintah.
Impor minyak mentah Rusia sendiri telah memasuki tahap kedua setelah pengadaan tahap pertama sebelumnya berhasil dilakukan. Bahlil memastikan proses pembelian lanjutan sudah mulai berjalan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah merencanakan pengadaan minyak Rusia secara bertahap dengan kebutuhan yang disesuaikan kondisi nasional. Kerja sama tersebut dibangun melalui kerangka antarpemerintah sebelum diteruskan dalam mekanisme bisnis. Pemerintah juga menyiapkan kemungkinan kontrak jangka panjang agar kepastian pasokan dapat lebih terjaga. Namun, setiap pengadaan tetap harus mempertimbangkan harga dan kondisi pasar ketika transaksi dilakukan.
Salah satu alasan utama pemerintah melanjutkan pembelian adalah faktor harga. Bahlil menilai pemerintah harus mendapatkan minyak dengan harga sekompetitif mungkin karena biaya pengadaan memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian. Harga minyak yang tinggi dapat memberikan tekanan terhadap biaya produksi BBM dan anggaran energi. Karena itu, sumber pasokan dengan harga lebih rendah menjadi pilihan yang rasional selama kualitas minyak sesuai kebutuhan kilang. Pemerintah juga mempertimbangkan biaya pengangkutan dan berbagai komponen lain sebelum menentukan keekonomian transaksi. Harga pembelian yang murah belum tentu menguntungkan apabila biaya logistik maupun pengolahannya terlalu tinggi.
Kebijakan tersebut juga ditempatkan dalam kerangka politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Bahlil menegaskan Indonesia memiliki kedaulatan untuk menentukan mitra perdagangan berdasarkan kepentingan nasional. Pemerintah tidak ingin keputusan mengenai pemenuhan energi domestik ditentukan oleh kepentingan negara lain. Namun, kebebasan tersebut tetap dijalankan dengan memperhatikan aturan dan ketentuan yang berlaku dalam transaksi internasional. Pemerintah memastikan pengadaan tidak dilakukan apabila bertentangan dengan aturan yang harus dipatuhi Indonesia. Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, ketahanan energi, dan hubungan internasional.
Pengadaan minyak Rusia juga berkaitan dengan strategi pemerintah memperkuat cadangan serta keandalan pasokan energi. Gangguan distribusi global dapat membuat negara pengimpor menghadapi risiko apabila tidak memiliki sumber alternatif. Dengan memperluas jaringan pemasok, Indonesia memiliki lebih banyak pilihan ketika salah satu jalur mengalami kendala. Strategi tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan energi nasional masih terus meningkat mengikuti aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Pemerintah harus memastikan kebutuhan kilang dapat dipenuhi secara konsisten agar distribusi BBM tetap berjalan. Diversifikasi pasokan menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap sumber tertentu.
Di sisi lain, pemerintah tetap memiliki pekerjaan besar untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Impor tidak dimaksudkan menggantikan upaya memperkuat sektor hulu migas nasional. Eksplorasi, peningkatan produksi dari lapangan yang telah beroperasi, serta penerapan teknologi menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dalam jangka panjang. Indonesia memiliki sejumlah wilayah yang masih memiliki potensi migas tetapi membutuhkan investasi dan teknologi untuk dikembangkan. Pemerintah juga perlu menciptakan kepastian bagi investor agar proyek eksplorasi dapat berjalan lebih cepat. Peningkatan produksi domestik akan memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah dalam mengelola kebutuhan impor.
Harga minyak internasional menjadi faktor lain yang terus dipantau pemerintah. Rata-rata harga minyak yang dihadapi Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 berada di kisaran sekitar 85 hingga 90 dolar AS per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang berada pada level 70 dolar AS per barel. Selisih tersebut dapat memberikan tekanan terhadap berbagai komponen ekonomi yang berkaitan dengan energi. Mendapatkan sumber minyak dengan harga kompetitif karena itu menjadi semakin penting untuk mengendalikan biaya. Pemerintah perlu terus membandingkan penawaran dari berbagai negara agar keputusan pembelian memberikan manfaat ekonomi terbaik.
Keputusan Indonesia mengimpor minyak mentah Rusia pada akhirnya didasarkan pada kombinasi kebutuhan pasokan, harga, ketahanan energi, dan kepentingan nasional. Bahlil menegaskan pemerintah mencari sumber minyak yang tersedia dan ekonomis selama pengadaannya tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Tahap kedua pembelian minyak Rusia telah mulai berjalan setelah pengadaan tahap pertama sebelumnya terlaksana. Kebijakan tersebut menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan ketika produksi domestik masih belum mencapai target. Pada saat yang sama, peningkatan produksi minyak nasional tetap diperlukan untuk memperkuat kemandirian energi dalam jangka panjang. Pemerintah berharap kombinasi diversifikasi impor dan peningkatan produksi domestik dapat menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat di tengah ketidakpastian pasar global.






