Jakarta, 29 Mei 2026 – Petani kelapa sawit di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengeluhkan penurunan harga tandan buah segar (TBS) yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan karena terjadi di tengah tingginya biaya produksi yang harus ditanggung petani, terutama untuk pembelian pupuk, pestisida, dan biaya perawatan kebun. Sejumlah petani mengaku pendapatan yang mereka terima kini jauh lebih kecil dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sementara kebutuhan operasional perkebunan terus meningkat. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan usaha perkebunan rakyat yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat di berbagai wilayah Sumatera Utara. Penurunan harga TBS juga terjadi di sejumlah daerah sentra sawit lainnya sehingga memunculkan keluhan serupa dari kalangan petani.
Dalam beberapa periode terakhir, harga TBS di Sumatera Utara menunjukkan tren penurunan dibandingkan level sebelumnya. Data penetapan harga resmi menunjukkan adanya koreksi harga yang cukup signifikan, bahkan pada akhir Mei 2026 harga TBS di Sumatera Utara dilaporkan mengalami penurunan ratusan rupiah per kilogram dibanding periode sebelumnya. Bagi petani swadaya, kondisi di lapangan sering kali terasa lebih berat karena harga yang diterima dapat berada di bawah harga acuan akibat berbagai faktor distribusi dan rantai perdagangan. Situasi tersebut membuat banyak petani harus menghitung ulang biaya produksi agar usaha mereka tetap berjalan. Penurunan harga yang berlangsung dalam waktu relatif singkat menimbulkan kekhawatiran terhadap pendapatan keluarga petani dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, biaya pupuk yang terus tinggi menjadi persoalan utama yang paling banyak dikeluhkan oleh petani. Pemupukan merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga produktivitas tanaman sawit, sehingga sulit bagi petani untuk mengurangi penggunaannya secara drastis. Namun ketika harga pupuk meningkat sementara harga jual hasil panen menurun, margin keuntungan petani menjadi semakin tipis. Beberapa petani bahkan mengaku terpaksa mengurangi dosis pemupukan untuk menekan biaya operasional. Langkah tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap produktivitas kebun dalam jangka menengah dan panjang.
Selain pupuk, biaya tenaga kerja untuk panen dan pengangkutan hasil kebun juga menjadi beban tambahan yang harus ditanggung petani. Dalam kondisi harga TBS yang rendah, pengeluaran untuk panen sering kali memakan porsi yang cukup besar dari pendapatan yang diperoleh. Beberapa petani menyebut bahwa setelah dikurangi biaya panen, angkut, pupuk, dan perawatan kebun, keuntungan yang tersisa menjadi sangat terbatas. Situasi ini terutama dirasakan oleh petani kecil yang mengelola lahan dalam skala terbatas dan sangat bergantung pada hasil panen sawit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, banyak petani berharap adanya perbaikan harga dalam waktu dekat agar kondisi ekonomi mereka tidak semakin tertekan.
Pengamat sektor perkebunan menilai bahwa penurunan harga TBS saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika harga minyak sawit mentah di pasar hingga ketidakpastian yang muncul akibat perubahan kebijakan tata niaga dan ekspor komoditas sawit. Sejumlah pelaku industri disebut masih menunggu kepastian berbagai aturan turunan yang berkaitan dengan tata kelola perdagangan sawit nasional. Kondisi tersebut memicu kehati-hatian di tingkat pabrik maupun pelaku usaha lain dalam melakukan pembelian bahan baku. Dampaknya kemudian dirasakan langsung oleh petani di tingkat bawah melalui penurunan harga jual TBS. Para ahli menilai kepastian regulasi menjadi salah satu faktor penting untuk membantu menstabilkan pasar.
Kalangan petani berharap pemerintah dapat mengambil langkah yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan kesejahteraan pekebun rakyat. Mereka menilai perlindungan terhadap petani sangat penting karena sektor sawit menjadi sumber pendapatan bagi jutaan keluarga di berbagai daerah Indonesia. Selain stabilisasi harga, petani juga berharap adanya solusi terkait tingginya harga pupuk dan sarana produksi lainnya. Berbagai program dukungan yang dapat membantu menekan biaya produksi dinilai akan sangat membantu petani menghadapi kondisi pasar yang sedang melemah. Dengan dukungan yang tepat, produktivitas kebun rakyat diharapkan tetap dapat terjaga.
Fenomena anjloknya harga TBS di Simalungun menunjukkan tantangan yang masih dihadapi sektor perkebunan sawit rakyat di Indonesia. Ketika harga jual hasil panen menurun sementara biaya produksi terus meningkat, tekanan ekonomi terhadap petani menjadi semakin besar. Banyak pihak berharap kondisi pasar dapat kembali membaik sehingga kesejahteraan petani tidak semakin tergerus. Para pengamat juga menilai bahwa stabilitas kebijakan dan transparansi tata niaga akan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri sawit nasional. Di tengah berbagai tantangan tersebut, petani berharap hasil kerja mereka tetap memperoleh nilai yang layak sehingga usaha perkebunan yang telah mereka jalankan selama bertahun-tahun dapat terus bertahan.








